
“Pembangunan atau renovasi kantor desa!”
“Pembangunan masjid!”
“Renovasi sekolah!”
“Perbaikan jalan desa!”
Jawaban-jawaban itu terdengar seperti seruan dalam sebuah demonstrasi. Namun, kalimat-kalimat tersebut merupakan sebagian jawaban perempuan di Desa Sekatak Buji saat mengikuti pelatihan NASCLIM bertema tata kelola pemerintahan desa dan perencanaan pembangunan desa pada 23 Juli 2026.
Menurut Selvi Oktavela, fasilitator Sekolah Lapang Perempuan (Women Field School/WFS), perempuan di Desa Sekatak Buji selama ini belum banyak terlibat dalam forum perencanaan pembangunan desa, bahkan dalam musyawarah di tingkat rukun tetangga (RT).
Melalui pelatihan ini, perempuan diajak memahami bahwa pembangunan desa tidak selalu berkaitan dengan pembangunan fisik dan infrastruktur. Pembangunan juga mencakup peningkatan kapasitas, pemberdayaan, dan kesejahteraan masyarakat.
“Dengan semakin kuatnya pemahaman tersebut, perempuan tidak hanya hadir sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi juga mulai mengambil peran dalam menentukan kebutuhan dan arah pembangunan yang berdampak pada kehidupan mereka dan masyarakat di sekitarnya,” jelas Selvi.
Cucu Supriatin, salah satu fasilitator lokal yang juga menjabat sebagai Kepala Urusan (Kaur) Kesejahteraan Desa, menjelaskan bahwa perencanaan pembangunan desa juga perlu mengakomodasi usulan yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat.
Peserta kegiatan pelatihan. Copyright: selvi
“Usulan seperti pelatihan keterampilan, pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan, dan penguatan ekonomi keluarga masih jarang disampaikan dalam rapat perencanaan desa. Padahal, usulan-usulan tersebut penting untuk mendukung kesejahteraan perempuan,” tegas Cucu.
Selvi menambahkan bahwa pelatihan ini juga memperkenalkan mekanisme penyampaian aspirasi, mulai dari musyawarah RT hingga pembahasan di tingkat desa. Pemahaman tersebut menjadi langkah awal bagi perempuan untuk mengenali ruang partisipasi yang dapat mereka manfaatkan guna menyampaikan kebutuhan diri, keluarga, dan masyarakat dalam perencanaan pembangunan.
“Bagi perempuan Desa Sekatak Buji, mengenali ruang partisipasi menjadi langkah awal untuk membawa kebutuhan yang mereka temui sehari-hari ke dalam pembahasan pembangunan,” tegas Selvi.
Kredit
Kisah ini berdasarkan dokumentasi lapangan NASCLIM dari Desa Sekatak Buji, Kalimantan Utara, disusun oleh Selvi Oktavela.